|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 02 February 2012 13:15 |
|
We Can Goes to Campus
Kegiatan telah dilaksanakan pada tanggal 29 November 2010 di Ruang teater, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Diponegoro (UNDIP) Tembalang, Kabupaten Semarang. Diihadiri oleh 98 potensial Change Maker dan change maker. Kegiatan ini diorganisir oleh Musthofiyah, Vega wijaya, Nika Vera Ardani, Timorora Sdanha P, dan Rahmatul Furqon, dan dimoderator oleh Ninik Jumoenita.
Alur kegiatan:
- Pembukaan oleh Ibu Soka Hdaninah Katjasungkana (perwakilan dari We Can aliansi Semarang) untuk menyampaikan mengenai Kampanye We Can untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan, dimana dengan mendekatkan dan mengajak kepada mahasiwa atau pemuda, karena merupakan sasaran strategis untuk menjadi change maker untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan. Target sasaran ini juga memiliki akses untuk ilmu pengetahuan dan pendidikan, terutama mengenai nilai-nilai hak azasi manusia.
- Pemutaran film; “Perempuan Punya Cerita: sekuel Jogjakarta” dari Kalyana Film. Bercerita mengenai kehidupan remaja Yogkarta, dimana banyak kases untuk mendapatkan film porno melalui internet atau DVD/VCD. Film ini juga menggambarkan mengenai perilaku seksual dalam kehidupan remaja, dari kehamilan diluar nikah, aborsi, seks bebas, dan pelecehan seksual
- Tanggapan dan opini mengenai pemutaran film
- Presentasi dari Ibu Soka Hdaninah Katjasungkana (perwakilan dari We Can aliansi Semarang) dengan materi mengenai “Isu kekerasan terhadap perempuan dan Kampanye We Can"
- Presentasi dari Ibu Nuriyatul Lailliyah (Dosen Ilmu Komunikasi, FISIP-UNDIP) dengan materi mengenai “kekerasan terhadap perempuan dalam perspektif Komunikasi dan Feminis”
- Presentasi dari Bapak. Mohammad Akung (Dosen Ilmu Psikologi, Fakultas Psikologi - UNDIP) dengan materi mengenai “kekerasan terhadap perempuan dalam perspektif psikologi”
- Diskusi (Tanya jawab)
- • Kampanye We Can Indonesia → Bagaimana cara berpartisipasi dan bergabung dalam Kampanye We Can untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan, terutama di dalam institusi pendidikan
- Door prize, dengan pertanyaan mengenai Kampanye We Can dan isu kekerasan terhadap perempuan
- Penutupan oleh Ibu Soka Hdaninah katjasungkana
Dari kegiatan We Can Goes to Campus di Semarang, dapat terlihat antusiame dari peserta untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan kurang maksimal, karena dari 98 peserta, hanya 26 peserta yang memberikan tanda tangan untuk berpartisipasi dalam Kampanye We Can dan berkomitmen untuk melakukan perubahan serta menjadi seorangChange Maker. Walaupun karakteristik peserta cukup aktif, terutama dalam sesi diskusi, namun mereka menolak untuk menandatangani lembar change maker karena mereka tidak mau untuk terikat atau terpaku oleh komitmen.
|
|
Last Updated on Thursday, 02 February 2012 13:21 |
|
We Can Diskusi Antar Kampung |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 02 February 2012 13:14 |
|
Diskusi Antar Kampung
Kegiatan telah dilakukan di Aula BLKLN – Propinsi Jawa Tengah, Jl. Brotojoyo No. 1, Semarang pada tanggal 4 Desember 2010. Dihadiri oleh 26 potensial Change Maker dan change maker, terdiri dari 20 perempuan dan 6 laki-laki, dari Desa Morodemak – Kecamatan Demak, Desa Kemijen, Desa Pdanansari, dan mahasiwa dari UNDIP, IAIN Walisongo, dan Universitas Katolik Soegijapranata. Kegiatan ini diorganisir oleh Musthofiyah, Arigus Wirati, Helen Intania, Nika Vera Ardani, Soka Hdaninah Katjasungkana, dan Ninik Jumoenita.
Alur kegiatan:
- Pembukaan oleh Ibu Soka hdaninah perwakilan dari We Can aliansi Semarang
- Perkenalan oleh Ninik J sebagai fasilitator
- Diskusi dan review pemahaman pada isu kekerasan terhadap perempuan dan prespektif gender, terutama di komunitas atau desa masing-masing
- Sharing dan diskusi tentang kasus kekerasan terhadap perempuan dan perkembangan Kampanye We Can di setiap desa/Kelompok target. Difasilitasi oleh Dina
- Berbagi tentang kekerasan pelayanan terhadap perempuan di Propinsi Jawa Tengah, terutama di Kabupaten Semarang. Difasilitasi oleh Dina
- Partisipasi dalam Kampanye We Can sebagai Change Maker atau potensial Change Maker untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan di Semarang. Difasilitasi oleh Ninik J
- Penutupan oleh Ibu Soka Hdaninah dengan evaluasi dan kesimpulan diskusi serta sharing dari seluruh peserta. Beliau juga meminta peserta untuk meningkatkan semangat dan moral para change maker dan potensial Change Maker untuk berkomitmen melakukan perubahan dan mendukung Kampanye We Can untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan.
Sharing dari Khalayak sasaran/Desa/kelompok:
- Komunitas Kemijen adalah daerah rawan bencana dan dengan kondisi sosial ekonomi menengah kebawah. Namun bagaimanapun komunitas ini penuh semangat untuk merespon dalam penghentian kekerasan terhadap perempuan, dengan berpartisipasi aktif dalam Kampanye We Can dan menanggapi korban kekerasan.
- Komunitas Pdanasari adalah komunitas urban dengan kondisi sosial ekonomi menengah kebawah. Di dalam komunitas ini masih terdapat kurang dan lemahnya pemahaman mengenai isu kekerasan berbasis gender.
- Komunitas Morodemak adalah komunitas nelayan dan pemancing di Kecamatan Demak, dimana komunitas ini sangat terbiasa akan kekerasan terhadap perempuan. Dengan Kampanye We Can, tanggapan komunitas sangat positif dimana mereka berpendapat bahwa informasi Kampanye We Can untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan dibutuhkan oleh komunitas mereka. Komunitas ini berhasrat dan memiliki semangat yang tinggi untuk belajar bagaimana melakukan perubahan untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan.
- Kelompok Mahasiwa; mereka sangat aktif untuk berpartisipasi dalam Kegiatan Kampanye We Can karena mereka tertarik akan isu gender dan kekerasan terhadap perempuan.
Terdapat 2 komunitas yang tidak bisa hadir dalam Diskusi Antar Kampung, mereka adalah komunitas dari:
- Komunitas Gunungpati; yang merupakan komunitas seniman Semarang, mayoritas anggotanya adalah laki-laki. Kesadaran dan pemahaman mereka pada kekerasan terhadap perempuan masih belum konsisten dan bias gender.
- Komunitas Gambilangu; komunitas lokalisasi prostitusi dan sangat rentan kekerasan, terutama kekerasan terhadap perempuan. Karena pragmatisme dan persaingan yang tinggi, aliansi We Can Semarang tidak dapat mengorganisir komunitas ini untuk berpartisipasi dalam kegiatan Kampanye We Can. Walaupun korban kekerasan mayoritas perempuan, perasaan dan motivasi untuk aktif berpartisipasi dalam mengakhiri kekerasan terhadap perempuan masih lemah.
|
|
Last Updated on Thursday, 02 February 2012 13:15 |
|
|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 02 February 2012 13:06 |
|
We Can Goes To Kampung
Aliansi We Can Semarang telah melaksanakan 7 kali We Can Goes To Kampung di;
- Desa Morodemak, pada tanggal 24 Juli 2010 di Balai Desa Morodemak, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak. Karakteristik Desa Morodemak adalah Desa nelayan, dimana mayoritas dari laki-laki bekerja sebagai nelayan di laut dan perempuan bekerja sebagai Ibu rumah tangga. Kareakter komunitas memiliki pola komunikasi yang buruk, kasar/keras, dan terbiasa dengan dengan kekerasan, terutama kekerasan terhadap perempuan, seperti pelecehan seksual dan kekerasan domestik. Dalam kegiatan ini dihadiri oleh 38 potensial change maker, terdiri dari 27 perempuan dan 11 laki-laki, dan difasilitasi oleh Binik Nurudduja dan Masnuah.
- Desa Kemijen, Kabupaten Semarang Timur, pada tanggal 20 Juli 2010 di Rt 5/Rw 6 Cilosari. Dihadiri oleh 43 potensial change maker, terdiri dari 39 perempuan dan 4 laki-laki, dan difasilitasi oleh Ninik Jumoenita dan Petrus Puji Sarwono.
- Jurusan Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Diponegoro (UNDIP) pada tanggal 28 Juli 2010. Dihadiri oleh 69 potensial change maker dan change maker, terdiri dari 46 perempuan dan 23 laki-laki, dan difasilitasi oleh Ninik Jumoenita dan Nuriyatul Lailiyah.
- Gedung pertemuan Gambilangu, Desa Gambilangu, pada tanggal 12 November 2010. Kegiatan ini difasilitasi oleh Bibik Nurudduja dan Musthofiyah, dan diorganisir oleh Timorora Sdanha P dan Helen Intania
- Kecamatan Pdanasari, Kabupaten Semarang tengah, pada tanggal 19 November 2010, dan dihadiri oleh 24 potensial Change Maker dan change maker. Kegiatan ini difasilitasi oleh Ninik Jumoenita, dan dan diorganisir oleh Musthofiyah dan Helen Intania
- Gedung Pertemuan Gambilangu, Desa Gambilangu, pada tanggal 19 November 2010. Kegiatan ini difasilitasi oleh Soka Hdaninah Katjasungkana dan Musthofiyah, dan diorganisir oleh Timorora Sdanha P
- Gedung Pertemuan Gambilangu, Desa Gambilangu, pada tanggal 26 November 2010. Kegiatan ini difasilitasi oleh Bibik Nurudduja dan Musthotiyah, dan diorganisir oleh Umiyati Narsan dan Timorora Sdanha P
Alur We Can Goes To Kampung;
- Pembukaan oleh Kepala Desa, dimana Ia berterima kasih kepada Kampanye We Can dalam usahanya untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan di Desanya. Dan juga sambutan dari fasilitator sebagai perwakilan dari aliansi We Can Semarang.
- Pembacaan doa dan ayat Al Quran dari Pemuka Agama; Dosen memberikan materi tentang isu kekerasan terhadap perempuan dalam perspektif Islam
- Pemutaran Film, dimainkan sebelum diskusi dengan menayangkan sebuah film dari Kalyana Mitra yang berjudul “Menguak Kekerasan Dalam Rumah Tangga” (duration 2 jam, namun di edit menjadi 30 menit). Film ini memberikan gambaran tentang bentuk dan kasus kekerasan domestik. Melalui film ini diharapkan peserta menjadi lebih menyadari fakta kekerasan terhadap perempuan, terutama kekerasan domestik, yang biasa terjadi dalam kehidupan dan komunitas, dan hal ini merupakan isu yang serius dan penting untuk diselesaikan. Menonton film “Impossible Dream”, mengenai perempuan dengan beban ganda, sebagai ibu dalam ruang domestik dan publik. Film ini bercerita mengenai sebuah keluarga, terdiri dari ayah, ibu dan ketiga anak mereka, dimana sang ibu juga mekakukan kerja di ruang domestik dan publik. Dan juga bercerita mengenai bagaimana laki-laki dan perempuan mau berbagi peran dalam ruang domestik, seperti mengasuh dan mendidik anak.
- Isu kekerasan terhadap perempuan; dari pengertian, lingkup atau dimensi kekerasan, penyebab kekerasan, bentuk kekerasan, dampak kekerasan pada korban dan pelaku kekerasan, hukum dan kebijakan.
- Kampanye We Can Indonesia; dari pengertian, latar belakang, visi dan misi, prinsip, strategi, dan change maker
- Respon peserta atau Tanya jawab
|
|
Last Updated on Thursday, 02 February 2012 13:14 |
|
TOT Change Maker We Can Indonesia |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 02 February 2012 12:59 |
|
TOT Change Maker
Kegiatan ini telah dilakukan pada tanggal 3-4 Juli 2010 di Balai Pelatihan BLKTKI Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Jawa Tengah. Difasilitasi oleh Salma Safitri dan Ninik Jumoenita, juga co-fasilitator oleh Bibik Nurudduja dan Umiyat. Diikuti oleh 17 change maker dari 5 komunitas; Kemijen. Grobogan, Gunungpati, Morodemak, dan komunitas mahasiswa.
TOT change maker adalah kegiatan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas para change maker yang telah bergabung dan berpartisipasi dalam Kampanye We Can. Tujuannya adalah untuk memperdalam pemahaman dan pengertian change maker dalam Kampanye We Can dan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan kampanye para change maker. Pelatihan ini menggunakan metode Asset Based Thingking (ABT). |
|
Last Updated on Thursday, 02 February 2012 13:00 |
|